Saturday, February 7, 2009

Suatu Hari di 3009

Kehidupan sudah dimulai sejak pukul lima
Anak-anak bangun di pagi buta. Siap-siap untuk ke sekolah

Panas akan semakin terik 10 menit lagi
Seperti biasa: jalanan macet, kesibukan dimana-mana. Pemandangan itu sudah biasa di jam sepagi itu
Tomy, bapak dua orang anak mengantarkan anak pertamanya ke sekolah sebelum berangkat ke pasar
Tomy bekerja sebagai pedagang di pasar
Di pasar, orang-orang tidak menjual pakaian atau emas
Mereka hanya menjual air. Air bersih

Siang menjelang.
Orang-orang pulang. Sembunyi di balik atap rumah
Sinar matahari terlalu kuat untuk dikalahkan di tengah hari begini

Sore datang
Aktivitas pagi kembali terulang. Hanya saja orang-orang yang keluar rumah kini ditutupi payung atau jaket.

Malam tiba
Orang-orang kembali ke rumah. Tomy menggantungkan jaketnya, mengantinya dengan baju tebal, syal dan kaus kaki
Istri dan anak-anaknya juga mengenakan pakaian yang sama

Jam 8, Tomy mengantarkan kedua anaknya ke peraduan
Membacakan dongeng tentang hutan dan harta karun yang berisikan puluhan liter air bersih

... Read More ...

Thursday, January 29, 2009

Belajar tidak Mengeluh

Seorang ayah dengan dua orang anaknya terkurung di tengah hujan dalam perjalanan pulang. Mereka berteduh di antara dua pohon rimbun di pinggir jalanan kota yang basah.
Anak pertama:kenapa kita tidak terus jalan saja ayah? Menunggu hujan reda akan buang-buang waktu saja.
Ayah:memang. Tapi, coba bersabar sedikit. Adikmu kan baru saja sembuh. Kalau hujan-hujanan bisa-bisa demamnya kambuh lagi.
Anak pertama:kalau gitu kenapa tidak bawa payung saja tadi, yah.
Ayah:payung kita kan cuma satu-satunya, nak. Ibumu lebih membutuhkan itu. Kalau ibumu tak ke pasar, kita mau makan apa nanti?
Anak pertama:kenapa kita tidak pakai angkot saja, yah?
Ayah:uang kita sudah tidak cukup. Sabar saja dulu. Sebentar lagi juga reda.
Anak pertama:(berbicara pada diri sendiri)coba kita punya mobil ya, yah? Pasti kita tidak kehujanan.
Ayah:(dalam hati) ya, andai saja aku punya mobil. Aku pasti lebih bisa sedikit "memilih" wanita mana yang ingin kujadikan istri. Yang cantik dan baik, tidak seperti ibumu. Dan kau tidak akan pernah mengeluh seperti ini.
Setelah itu hujan reda. Mengantarkan mereka kembali ke rumah.

... Read More ...

Friday, January 9, 2009

Dua Manusia Terakhir di Bumi

"Suatu hari, ketika mereka sedang berdoa meminta petunjuk. Mereka menemukan keajaiban. Seorang manusia bersayap putih turun dari atas langit yang hitam. Mereka terkejut sekaligus bahagia, ketika manyadari bahwa makhluk putih yang bisa berjalan di udara itu ternyata adalah utusan Tuhan untuk mendengarkan permintaan mereka."

21 Maret 2073. Perang dunia III yang telah meluluhlantahkan bumi selama lebih dari lima puluh tahun, akhirnya berakhir. Tidak jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam perperangan itu. Bau busuk mayat-mayat manusia bercampur dengan bau mesiu. Debu-debu berterbangan di atas langit gelap meski di siang hari. Tak ada tanda kehidupan sama sekali. Bumi seperti baru saja baru dihantamkan meteor raksasa yang memusnahkan seluruh permukaan bumi. Benar-benar tak ada tanda kehidupan. Sampai ketika terdengar suara seperti seekor kucing yang sedang mengais sampah. Tanda kehidupan!
Ternyata itu bukan suara binatang, apalagi seekor kucing. Sulit dipercaya, suara itu berasal dari seorang manusia. Dengan susah payah ia bangkit dari tumpukan reruntuhan bangunan yang menimpanya. Namun, hanya beberapa saat ketika ia bisa berdiri dan melihat dunia "baru"nya, seketika itu pulalah ia lebih berharap untuk tetap terkubur saja bersama sia-sia perang itu. Ya, dia menyadari tak ada siapun lagi di dunia, kecuali dirinya. Inilah kenyataan yang harus dihadapi oleh masyarakat sipil yang tak pernah berperang namun terimbas dampaknya.
Hampir saja bunuh diri, tiba-tiba ia menemukan setitik harapan. Satu lagi gerakan di bawah reruntuhan bangunan. Rasa harunya mengalahkan semua kesakitan yang bercokol di tubuhnya yang lusuh. Dengan sigap, dibantunya sesosok manusia -yang entah siapa- yang memang terlihat seperti membutuhkan pertolongan.

"Seorang tentara," akalnya mengutuk-ngutuk.
"tentara juga manusia," hatinya buru-buru menyergah pikirannya. Dikumpulkannya tenaga yang tersisa untuk membantu prajurit perang itu.
"Mungkin hanya kita berdua yang tersisa," ucapan lirihnya tidak ditanggapi oleh tentara itu yang tengah sibuk memperhatikan tangannya yang sepertinya patah. Mereka mencari tempat untuk beristirahat. Berharap masih ada sehelai tikar yang tersisa.
Tentara itu bernama Mortir dan lelaki yang satunya bernama Ali. Mortir dan Ali dengan segala latar belakanya yang sangat berlawanan mau tidak mau harus akrab sebagai dua manusia terakhir yang tersisa di bumi. Mereka membangun tempat tinggal sementara, persediaan makanan sementara, dan membuat pakaian sementara. Mereka sadar, dua orang laki-laki yang tersisa di bumi saat itu adalah manusia terakhir yang bisa hidup sementara tanpa bisa berharap untuk membuat suatu kehidupan yang lain.
Suatu hari, ketika mereka sedang berdoa meminta petunjuk. Mereka menemukan keajaiban. Seorang manusia bersayap putih turun dari atas langit yang hitam. Mereka terkejut sekaligus bahagia, ketika mengetahui makhluk putih yang bisa berjalan di udara itu ternyata adalah utusan Tuhan untuk mendengarkan permintaan mereka. Dua laki-laki beruntung itu diberikan masing-masing satu hak untuk meminta apapun dari Tuhan lewat perantara makhluk putih yang bersayap itu. Dan inilah dialog yang terjadi:
Makhluk Putih : Ali, kamu sudah tau apa yang harus kamu lakukan. Sekarang katakanlah satu permintaan apa saja selain menghidupkan kembali orang yang sudah mati!
Ali: (dengan mantap menjawab) aku ingin bumi kembali ke bentuknya yang semula. Aku ingin bumi hijau kembali.
Permintaan itu langsung terwujud. Seperti sihir, bumi kembali hijau dalam sekejap. Tidak ada tanda-tanda perperangan baru saja terjadi. Apalagi tanda-tanda meteor jatuh. Raut muka lelaki itu seketika kembali ceria seperti cahaya matahari yang mengintip dari sela-sela pepohonan hijau daun. Ali dan Mortir seperti menemukan semangat hidupnya kembali walau mereka tau, keindahan bumi yang mereka lihat saat ini hanya untuk sementara. Cepat atau lambat ajal jua lah yang akan menjemput mereka, dua lelaki sekaligus dua manusia terakhir di bumi itu.
Makhluk Putih: sekarang giliranmu, Mor, katakan apa permintaanmu.
Mortir: (dengan tidak kalah mantapnya menjawab) saya minta sepucuk Senapan AK-47!
Makhluk putih belum sempat menunjukkan mimik herannya, sepucuk senjata mematikan Senapan AK-47 telah bersarang di pelukan Mortir.
Ali: (bertanya dalam hati) untuk apa sepucuk AK-47 di dunia yang hanya diisi oleh dua manusia? Dia berjaga-jaga dari siapa? Manusia mana lagi yang akan dibunuhnya?
Ali baru menemukan jawabannya ketika serbuan timah panas AK-47 menembus tubuhnya. Makhluk Putih tanpa basa-basi langsung terbang meninggalkan dua manusia itu.

... Read More ...

Saturday, October 25, 2008

Mimpi: Cintailah aku

Mereka adalah “pemberontak” bagai ombak. Bukan tipe orang yang mengalah kepada keadaan. Karena mereka telah menaruh mimpi yang harus terwujudkan di dalam hati mereka.
Aku adalah benda maya yang tak dapat disentuh. Wujudku memang tiada tapi aku bisa dirasa bagi orang-orang yang ingin merasakannya. Aku tidak dijual di toko-toko. Aku tidak dijajakan di pasar loak, atau dipampang di mal-mal megah kota-kota besar. Aku tidak dijual. Aku bisa didapatkan dengan gratis oleh orang-orang yang ingin memilikiku.

Aku tidak perlu dicari hingga ke ujung dunia. Aku bukan dasar Atlantik yang harus diselami. Aku bukan puncak Himalaya yang harus didaki. Aku berada di dalam hati setiap manusia.

Aku bersemayam dalam sebuah organ tubuh manusia yang, bisa jadi, lebih luas dari jagad raya. Mereka menyebutnya hati. Mungkin, hati lebih besar dari dunia. Ia lebih dalam dari samudra, dan lebih tinggi dari puncak gunung tertinggi. Namun, hati dan manusia adalah seperti Tuhan dengan alam semesta. Bukankah dunia maupun luar angkasa begitu kecil bagi Tuhan Yang Maha Besar? Manusia adalah “tuhan” bagi hatinya. Mereka bisa meletakkan aku di manapun mereka mau. Mereka bisa meletakkan aku di seluruh penjuru hati mereka. Membuat mencampakkan aku di daerah terpencil hati mereka.

Aku memang tidak dijual, namun mereka yang membuatku mahal. Aku memang tidak perlu dicari, mereka lah yang menjadikanku layaknya harta karun yang terpendam berabad-abad semenjak sebelum masehi.

Aku berada di dalam setiap hati manusia. Aku memberikan semangat. Aku meneriakkan motivasi. Dan sering kali, aku menggetarkan hati-hati mereka di kala mereka mulai jenuh dan basi. Aku bertugas membakar bara kekuatan mereka, dan menopang karang ketegaran mereka.

Aku merupakan ancang-ancang sebelum mereka mengambil langkah. Hidup tanpa aku bagaikan serangkaian acara tanpa proposal. Tak banyak yang bisa mereka lakukan kecuali mengalah kepada keadaan. Mengalir seperti air. Bukan itu prinsip hidup bagi orang yang menggenggam erat kehadiranku. Mereka adalah “pemberontak” bagai ombak. Bukan tipe orang yang mengalah kepada keadaan. Karena mereka telah menaruh mimpi yang harus terwujudkan di dalam hati mereka.

Aku adalah modal bagi mereka yang ingin mendapatkan laba kebahagiaan. Mereka berteman denganku untuk membahagiakan orang tua, keluarga, dan orang-orang di sekitar mereka. Mereka mencintai aku untuk menyelamatkan hidup orang lain, untuk melakukan hal yang berguna bagi orang lain. Dan, mereka menyayangi aku demi kehidupan mereka kelak. Aku mencintai pun juga akan mereka karena itu semua.

Katakanlah kepada mereka, “Milikilah aku!” Agar aku bisa menjadi teman setia dalam setiap langkah mereka. Katakan juga, “Jangan takut karena telah mengabaikanku selama ini. Aku tetap mencintai mereka dari dulu hingga sekarang. Karena selama ini aku hidup di dalam mereka, meski belum terjamah oleh mereka. Tapi aku sungguh menantikan –saat-saat itu. Saat-saat mereka berbagi denganku. Menentukan arah langkah mereka.

Selama aku masih terasing dalam belahan antah berantah hati mereka. Aku tak akan pernah dapat mereka sentuh dan mereka rasakan. Apakah mereka ingin menyia-nyiakan keberadaanku? Kekuatan maya yang sesungguhnya memiliki kekuatan besar yang nyata.

Cintailah aku, sayangilah aku, milikilah aku.
Salam.
Mimpi yang akan selalu di dalam hatimu.


... Read More ...

Monday, September 22, 2008

Akhirnya datang juga...

Celoteh: Nothing sia-sia in this world.
Intro
Hah...
Setelah sekian lama vakum dalam tulis-menulis blog, akhirnya saya datang lagi dengan kemasan yang lebih menarik (emang obat nyamuk). Yah, walau posting kali ini terkesan sedikit kurang penting (emang selama ini postingannya ada yang penting?) karena tidak menyangkut dengan permasalahan negara ataupun permasalahatan hidup orang banyak, tapi saya cukup bangga dengan insya Allah terselesaikannya tulisan ini nanti.
Hmmm... tapi mohon maaf, kalau nanti tulisan ini ngelantur kemana-mana. Selain dikarenakan, kelewetan waktu sahur gara-gara ber-bloging-ria, kebetulan, warnet tempat saya sedang menulis sekarang ini, keyboardnya tuh nggak beda jauh ama mesin tik, kerasnya minta ampun! (ampun...!)

Nothing sia-sia in this world.
Jangan pernah nyari kata "sia-sia" di atas, dalam kamus english-indonesia. Karena itu memang bukan bahasa bule. Sia-sia kira-kira bisa diartikan: sesuatu perbuatan yang tidak mendatangkan hasil (kalau ada yang belum tau :-) ).
Bagi beberapa/sebagian/banyak orang (termasuk saya) percaya bahwa "hidup ini adalah pilihan". Sebagian lagi percaya bahwa hidup adalah perbuatan" (ini serius loh, bukan kampanye parpol. :-) ) Tapi kita akan membahas sedikit mengenai"hidup adalah pilihan" dulu, yang satu lagi kita bahas kapan-kapan aja ya. :-) Kita, manusia, selain diberikan hati, akal, dan pikiran oleh Allah Yang Maha Pemberi, secara langsung atau tidak langsung, sadar atau tidak sadar, juga sering diberikan suatu nikmat atau anugrah yang begitu besar dan begitu indahnya, yang dinamakan pilihan.
Bayangkan, seandainya tidak pernah ada satu pilihanpun yang diberikan Allah kepada manusia, apa yang terjadi dengan kehidupan kita. Bagaimana jika, sewaktu bayi, SD, SMP, SMA, dan masa depan kita telah "divonis" tanpa ada kesempatan kita untuk memilih. Tentu saja kita tidak bisa berbuat apa-apa, bukan? Tentu saja, hidup akan terasa jadi garing. Tidak ada usaha dan tidak ada perbuatan.
Tapi, disinilah letak kebijaksanaan suatu kehidupan, Zat Pemilik alam semesta beserta isi-isinya dalam berbagai hal memberikan kita kesempatan untuk memilih. Pintar atau bodoh. Rajin atau malas. Beriman atau munafik. Bahagia atau sengsara. Positif atau negatif, dll. Semua itu kita yang memilih, kita yang menentukan. Tentunya, atas izin Allah S.W.T.
Mengapa "pilihan" adalah suatu anugrah yang begitu indah dan begitu besar artinya? Pilihan dalam kehidupan berkaitan sangat erat sekali dengan masa depan. Tidak dapat disangsikan, setiap kita mengidam-idamkan masa depan yang baik. Dan masa depan yang baik itu adalah buah dari pilihan yang kita lakukan selama membanting tulang untuk meraihnya.
Nothing sia-sia in this world. Tidak ada sia-sia di dunia. Setiap makhluk, setiap benda hidup maupun mati ataupun pasti mempunyai peranan dalam kehidupan di dunia. Bahkan hal yang paling buruk sekalipun. Apa hal yang paling buruk yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia.? Misalnya kegagalan. Dalam satu sudut pandang, yang bisa kita katakan sebagai sudut pandang negatif, suatu kegagalan akan dirasakan oleh seseorang sebagai hantaman keras yang bisa membuatnya nge-drop dan putus asa. Namun, dalam satu sudut pandang yang lain, yang bisa kita katakan sebagai sudut pandang positif. Suatu kegagalan bisa dijadikan sebagai suatu pelajaran yang bermanfaat yang bisa dijadikan sebagai tolak ukur untuk masa depan.
Disini, peran manusia dalam memilih sangatlah menentukan nasib atau masa depannya. Jika dia memilih putus asa. Maka dapat diprediksikan hanyalah kegagalan-kegagalan berikutnya yang akan ia dapatkan. Namun sebaliknya, apabila suatu kegagalan dijadikan pelajaran dan pengalaman. Maka dapat diterima oleh akal sehat, kesuksesan akan lebih mudah dirah.
Begitulah, selagi kita yakin bahwa tak ada satupun di dunia ini yang sia-sia. Bahkan sesuatu yang paling buruk sekalipun. Insya Allah, kaca mata positif akan selalu merekat di mata hati kita.

... Read More ...


 

Design by Amanda @ Blogger Buster